Thursday, November 1, 2007

Sharing of experience & learning from Indonesia

by ROBERT LEO, Keystone Foundation, India
voice from the forest edition no 09 december 05 - www.ntfp.org

Salamat Pagi, Indonesia. The honey hunters; either Anthario in Indonesia or Rengasamy in India – a unique similarity is embedded in these people’s skill. The standout quietness, leaning by watching hours together is absolutely the same. It was a great opportunity to meet indigenous honey gatherers, Zul (artist) and development friends to share and learn during the 2nd National Wild Honey Gatherers Workshop in Banjarmasin, Indonesia.
The Strength of the Partners. The network comprised a collective of partners with different qualities –conservation groups, researchers, marketing experts, community leaders and development groups–is a positive one through which strong initiatives is possible.

The Resource. Tropical honey is the finest blend of nectars of multi-melliferous sources from herbal plants to rainforest trees. The year-round availability and harvest of honey from different provinces is true evidence of the biodiversity of the region and the efficient honey production by the king (or rather queen!) of allbees, the giant honey bee Apis dorsata. The estimated quantum by all partners exceeds to 230 metric tonnes, which is not simple to handle in a tropical climate and under Asiatic conditions.

Though the workshop addressed marketing of honey, it is interesting to note that the interaction gradually paved the importance of quality, handling, recognition to indigenous wisdom, lobbying to habitat protection into the vision and mission of the network partners.

The Challenges for Indonesian Honeys
1. Moisture content; the tropical honey has high moisture content at the time of collection itself.
2. Collected in remote areas and in a difficult environment for proper storing. One could understand that every kilo of honey is in transit for a period of two to three weeks before it gets packed into a bottle. Over this period, the honey is exposed to different temperatures and stored in different types of containers, which together is critical to maintaining the quality.
3. Basic awareness of the origin of the honey, better understanding of the bee’s life cycle (which relates to the natural resources) and a change in land use, which currently leads to a reduction of the total forest area.
4. Need to build a local market: the restriction and refusal of the European market for acacia, palm plantation honey enlightens the need for natural forest conservation, to be taken up into positive manner.

The Way Forward
- Training on basics of honey processing and handling.
- Better equipment to handle honey.
- Standard laboratory (centralized) support.
- Capacity building to the primary groups: not just to sell, but also to gradually build links from the forest to the consumer.
- Explore high potential for value-added bee products; habitat role has to be generated to sustain the activity.
- If simple units are established locally to pack with strict specifications, then this may help to keep quality up, while also benefiting the local community!
- Exploring and designing solar wax extractors exclusively to melt wax locally.
- A resource inventory focusing on the role of bees in the biodiversity balance and measures to promote forest regeneration as the natural habitat of the bees. This could be a useful exercise with long-term benefits to communities and policymakers alike.
- The Indonesian standard agency BioCert could play an important role in setting export standard and facilitation. At the same time, the agency should understand the ecology of bees and social aspects of the collectors.

The short excursions. The trip included a short visit to an island. The vegetation in the island strikes the original vegetation of the region. The mangroves, ferns, shrubs, trees, fish and monkeys need propaganda from the citizens. If a local partner could take up an awareness camp, for instance, and generate information about the island’s ecology, that would be a great start for others to follow elsewhere in Indonesia.

The lifestyle and social aspects gives almost the native feeling to me. The floating market environment is an amazing experience except the number of logs around the place.

Thanks. I sincerely appreciate the hospitality of the Dian Niaga team members especially: Terimah kasih Mr. Johnny, a wonderful person and all other members of the network. I express my heartful thanks to Pak Heri of Riak Bumi for all his communications and arrangements. I thank Mr. Jenne for the opportunity to learn and share the experiences. My sincere thanks also to Keystone for the privilege given to me. I would like to be in regular interaction with all of you – friends of Indonesia!

Contact: Keystone Foundation, Groves Hill Road, Kotagiri 643217, The Nilgiris, Tamil Nadu, India. Tel: +91 4266 272277. Tel/Fax: (91) 4266 272977. Email: kf@keystone-foundation.org. URL: www.keystone-foundation.org

Advertising DORSATA - organik madu hutan

dengan dibantu team w3-o dari singapura maka Dian Niaga Jakarta mengeluarkan beberapa advertising untuk lebih mendukung produk DORSATA - madu hutan organik.

Tuesday, October 30, 2007

Panen Lestari - sistem baru untuk pelestarian koloni lebah

saat ini anggota JMHI mempunyai standart proses panen untuk madu hutan.
kalau dulu sebelum bergabung dengan JMHI memang panen yang mereka ketahui adalah panen dengan memotong (mengambil) seluruh bagian sarang, baik nanti nya dipakai untuk lilin atau cm dibiarkan terbuang di hutan.

tapi setelah adanya study banding dari kelompok petani madu di Danau Sentarum ke Vietnam maka mereka mencoba mempraktekan panen dengan hanya mengambil bagian kepala madunya (bagian yang berisi madu) dan membiarkan sedikit bagian madu tersebut masih ada.

dengan proses panen ini maka koloni lebah hutan tidak akan punah karena sarang tempat anak lebah masih utuh dan mereka masih mempunyai cadangan makanan.

selain itu dengan menggunakan proses panen lestari ini, panen madu hutan yang biasanya 1 musim hanya bisa 1 x bisa meningkat menjadi 2 - 3 kali tergantung banyak sedikitnya sumber bunga di lokasi.

15 hari setelah panen pertama mereka koloni lebah akan menghasilkan lagi kepala madu dan akan siap dipanen kembali.

ternyata dengan menggunakan sistem yang bersahabat dengan alam juga bisa menghasilkan keuntungan buat petani madu hutan

forum madu hutan

ahkir oktober ini website maduhutan.com menambah satu fasilitas untuk bisa saling berdiskusi mengenai madu hutan, baik dalam penerapan kegiatan sehari-hari, sharing resep, berdiskusi mengenai cara penyimpanan madu, memperdalam mengenai bagaimana madu hutan di panen, dll

ditunggu partisipasi aktifnya ya di forum
http://www.maduhutan.com/forum

Wednesday, September 12, 2007

Dibalik manisnya Madu Hutan JMHI

Madu memang manis.. apalagi juga mempunyai banyak kandungan yang bermanfaat buat kesehatan manusia. Tapi dibalik semua itu ternyata madu hutan yang dipanen oleh anggota Jaringan Madu Hutan Indonesia mempunyai sisi lain yang juga tidak kalah manisnya.

Apa itu JMHI dan siapa saja yang terlibat ?
JMHI adalah jaringan yang berfungsi sebagai forum komunikasi, berbagi pengalaman tentang praktek pengelolaan dan pemanfaatan lebah madu hutan di masing-masing wilayah, informasi dan komunikasi antar wilayah, guna membuat langkah-langkah strategis ke depan untuk mengatasi masalah kehutanan di Indonesia khususnya. JMHI mempunyai anggota yang tersebar di 8 propinsi di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Sumbawa.

Anggota yang tergabung dalam JMHI sebagian besar merupakan komunitas masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan. Mereka turun temurun tinggal dan ikut serta dalam membantu mengelola lingkungan hutan. Proses memanen madu pun juga mereka dapatkan turun temurun dari leluhur mereka.

Peningkatan Kualitas Madu Hutan
Tapi pada awalnya madu yang dipanen dan diproduksi oleh komunitas kualitasnya masih sangat rendah. Mereka memanen seluruh sarang dan kemudian memeras madu beserta sarang dan anak lebah yang ada di dalam sarang. Selain itu juga mereka seringkali menggunakan tempat penampungan bekas cat, minyak untuk menampung madu hutan yang sudah mereka panen.

Hal ini lah yang menjadi latar belakang kenapa JMHI merasa perlu untuk peningkatan kualitas madu hutan yang dihasilkan oleh komunitas masyarakat. Dengan terbentuknya JMHI maka komunitas bisa saling berbagi cerita dan pengalaman selama menekuni madu hutan selama ini. Selain itu dengan adanya JMHI maka beberapa rekan dari komunitas bisa saling mengadakan kunjungan pembelajaran. Seperti kunjungan ke vietnam yang dilakukan oleh kelompok periau danau sentarum sehingga mereka bisa mempelajari teknik tikung sebagai alternatif tempat bersarang lebah hutan. Proses tiris sebagai pengganti proses peras tangan madu dengan sarangnya juga menjadi suatu langkah besar untuk hasil madu yang lebih berkualitas. Saringan dan juga alat penyimpanan madu dari bahan yang bisa digunakan untuk makanan (stainless steel dan juga plastik baru) juga menjadi salah satu prioritas untuk anggota JMHI karena dengan semakin bagus fasilitas yang dipakai maka proses panen yang higienis juga jadi lebih mudah dicapai.

Madu Hutan dan Pelestarian Lingkungan Hutan
Madu hutan bisa dikatakan merupakan salah satu indikasi masih bagus tidaknya kondisi hutan tropis di Indonesia. Lebah hutan hanya mau membuat sarang di pohon dimana kondisi hutan disekitarnya masih mempunyai banyak pohon bunga sebagai sumber makanan lebah hutan. Dari beberapa referensi disebutkan bahwa jarak jangkuan lebah hutan dalam mencari sumber nektar sekitar 3 km dari sarang mereka. Sehingga kalau dalam suatu wilayah ditemukan sarang lebah hutan maka dipastikan bahwa lingkungan hutan di sekitar sarang lebah adalah lingkungan yang belum rusak.

Selain itu karena madu hutan yang dihasilkan sudah meningkat kualitasnya sehingga harga jual menjadi lebih tinggi dibanding sebelum memakai sistem tiris. Masyarakat sekitar yang mendapat insentif langsung dari hasil panen madu hutan secara langsung akan merasakan manfaat kerja keras mereka dalam menjaga kondisi hutan dari perusakan. Masyarakat sekitar hutan tentu tidak akan mau sumber penghasilan mereka hilang. Mereka akan menjaga hutan tempat tinggal lebah hutan dan juga tempat pohon pakan lebah terhindar dari kebakaran hutan, penebangan liar dan juga konversi lahan hutan.

Beberapa daerah juga sudah ada peraturan adat mengenai pohon tempat bersarang lebah. Barang siapa melanggar aturan dan merusak pohon tempat bersarang lebah akan dikenakan denda. Dan apabila ada masyarakat adat yang sampai kena denda mereka akan amat sangat malu dan dikucilkan dalam pergaulan sehari-hari.

Madu Hutan = alternative pendapatan masyarakat sekitar hutan
panen madu hutan biasanya terjadi di saat hasil ladang menurun, tangkapan ikan juga berkurang sehingga dari hasil panen madu hutan tersebut mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Madu hutan membantu melestarikan kebudayaan adat masyarakat setempat
komunitas petani madu hutan di beberapa tempat masih memegang teguh kebudayaan setempat. Mereka memanen madu hutan dengan kearifan lokal yang sudah berlangsung dari turun temurun. Seperti di salah satu lokasi di Danau Sentarum, dimana mereka selama mengadakan prosesi pemanenan madu hutan menyanyikan Timang lalau, suatu puja-puji supaya hasil panen madu hutan berhasil dan juga mendapat hasil berlimpah. Panen madu juga hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu, tidak semua orang bisa memanen madu hutan.

Panen madu hutan dan pelestarian koloni lebah hutan
saat ini sebagian besar anggota JMHI sudah mempraktekan proses panen lestari, yaitu proses panen yang hanya mengambil bagian kepala yang berisi madu dan menyisakan sedikit bagian madu untuk anak lebah. Dengan proses panen lestari ini koloni lebah hutan tidak akan musnah, karena mereka masih mempunyai cadangan makanan untuk kelangsungan hidup anakan lebah. Panen juga menyisakan beberapa koloni lebah hutan yang tidak dipanen sehingga mereka nanti bisa menjadi koloni lebah hutan yang baru.

Jadi kalau saat ini kita sudah rutin memakai madu untuk pengganti gula dalam kehidupan sehari-hari kita tahu pasti bagaimana manisnya madu dan fungsinya untuk kesehatan tubuh kita. Tapi dibalik itu terkandung makna manis nya madu hutan untuk kesejahteraan orang lain dan juga untuk pelestarian hutan tropis di Indonesia.

Saturday, September 8, 2007

Launching Madu Hutan DORSATA - foto

perkenalan JMHI dan APDS

pemutaran film "Profiting from Honey bee"

awas..diserang lebah raksasa


fokus pada acara


produk DORSATA siap dipasarkan

DORSATA organic forest honey





launching DORSATA organic forest honey tgl 7 September 07 di QB Kemang.